Ini PR Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin di Sektor Pertanian

Ini PR Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin di Sektor Pertanian



Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menyampaikan kepada Liputan6.com, bahwa pihaknya memiliki 10 capaian strategis sepanjang periode 2014-2019. Mulai dari efisiensi alokasi anggaran, peningkatan Gross Domestic Product (GDP), kontribusi turunkan kemiskinan, investasi, hingga penyediaan dan ekspor berbagai komoditas pangan.

Pertama, dalam pagu APBN, anggaran sejak 2015-2019 terus menurun hingga mencapai 34 persen. Anggaran Kementan pada 2015 sebesar Rp 32,7 triliun, turun menjadi Rp 27,7 triliun pada 2016, jadi Rp 24,2 triliun di 2017, Rp 24,03 triliun pada 2018, dan Rp 21,8 triliun di 2019. Kementan mengklaim, anggaran boleh turun, tapi produksi pertanian tetap naik dengan terobosan kebijakan (291 Permentan dan Perpres dicabut/disempurnakan).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), GDP atau Produk Domestik Bruto Pertanian (PDB) naik Rp 422,3 triliun. Bahkan pada 2017-2018 dapat tumbuh 3,7 persen, melebihi target sebesar 3,5 persen.

Masih berdasarkan laporan BPS, inflasi bahan makanan pada 2017 sebesar 1,26 persen, atau yang terendah dalam sejarah. Data inflasi ini kemudian dipertegas lewat laporan Food and Agriculture Organization (FAO), yang menyatakan Indonesia berada di peringkat nomor 3 inflasi tertinggi dunia pada 2013 yakni 11,71 persen. Pada 2017, negara berhasil memperbaiki diri menjadi bertengger di nomor 15.

Selanjutnya disampaikan, mengacu pada data BPS, ketersediaan dan harga pangan yang stabil berkontribusi signifikan terhadap penurunan kemiskinan. Kontribusi bahan makanan terhadap penurunan kemiskinan mencapai angka 73 persen.

Berikutnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, investasi pertanian meningkat tajam dengan menerapkan Online Single Submission (OSS). Investasi melonjak 110 persen dari Rp 29,3 triliun pada 2013 menjadi Rp 61,6 triliun pada 2018. Kementan bahkan mengklaim, capai tersebut seharusnya bisa meningkat lebih tinggi bila diukung sektor lain.

Dalam hal ekspor pertanian, Kementan juga berhasil meningkatkannya hingga 100 persen. BPS mencatat, ekspor pertanian pada kurun waktu 2009-2014 adalah 0,97 juta ton per tahun. Sedangkan pada 2014-2018, rata-rata peningkatan ekspor pertanian menjadi 1,8 juta ton per tahun. Adapun beberapa komoditas yang hasil ekspornya meningkat tajam antara lain bawang merah (41,2 persen), mangga (121,8 persen), manggis (285,3 persen), nanas (18,8 persen), kelapa (15,74 persen), sawit (23,44 persen), dan kakao (11,4 persen).

Komoditas lain yang juga dianggap masuk ke dalam capaian strategis yakni jagung. Sebab, jagung berhasil diekspor sebanyak 341 ribu ton pada 2018. Di lain sisi, negara juga sukses menyetop impor jagung sebanyak 3,5 juta ton atau setara Rp 10 triliun.

Hal lain yang turut disoroti adalah peningkatan populasi sapi. Pada 2014-2018, populasi sapi tumbuh 4,4 persen per tahun atau 1 juta ekor per tahun. Sementara peningkatan populasi sapi melalui program Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB) sebesar 3,8 juta ekor di 2019, atau setara Rp 76 triliun. Kebijakan terobosan ini dilakukan lantaran anggaran peternakan dipangkas 35 persen. Meskipun demikian, Kementan menyatakan, kebijakan tersebut tetap dapat meningkatkan pendapatan petani Rp 76 triliun.

Peningkatan selanjutnya yakni luas tanam bawang putih. Mengacu pada laporan BPS, kebijakan wajib tanam 5 persen bagi importir mampu meningkatkan luas tanam 243 persen atau setara Rp 646 miliar. Terobosan kebijakan ini juga dilakukan lantaran alokasi anggaran turun 35 persen.

Pencapaian strategis terakhir, Kementan mengabarkan, institusi berhasil memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama 3 tahun berturut-turut (2016, 2017, 2018), atau yang pertama dalam sejarah. Pencapaian lainnya, Kementan juga selama 2 tahun berturut-turut (2017 dan 2018) sukses mendapatkan penghargaan Anti Gratifikasi Terbaik dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 


Source link